29.08.2025
Waktu membaca: 3 min

Liverpool Rapuh Tanpa Gravenberch: Ujian Berat Hadapi Debut Eze di Anfield

Lorina Sofi
Lorina Sofi
Ryan Gravenberch, gelandang Liverpool, saat sesi latihan. Sosok penting dalam menjaga keseimbangan lini tengah The Reds

​​Pertandingan Liverpool vs Arsenal di Anfield akhir pekan ini bukan hanya soal persaingan perebutan puncak klasemen Premier League, tetapi juga menjadi panggung ujian bagi dua narasi besar. Di satu sisi, Liverpool mencoba membuktikan bahwa rekrutan termahal mereka, Florian Wirtz, bisa segera memberi dampak. Di sisi lain, Arsenal menantikan debut mewah Eberechi Eze yang digadang-gadang bakal jadi pembeda setelah diboyong dari Crystal Palace seharga £68 juta (The Guardian, 11/08).

Namun, di balik sorotan pada dua nama besar ini, ada satu sosok yang justru dianggap paling krusial bagi Liverpool : Ryan Gravenberch.

Liverpool musim ini masih menunjukkan agresivitas khas Arne Slot, dengan pressing tinggi dan serangan cepat. Akan tetapi, absennya Gravenberch serta Alexis Mac Allister membuat lini tengah The Reds tampak lebih mudah ditembus.

Liverpool dan Masalah Transisi

Menurut analisis mantan gelandang Anfield dalam FourFourTwo (08/25), kerentanan Liverpool bukanlah akibat Wirtz yang masih mencari ritme, melainkan hilangnya peran Gravenberch sebagai “penjaga keseimbangan” yang menghubungkan lini belakang dan serangan. Tanpa dirinya, transisi Liverpool terlihat rapuh, sehingga lawan lebih leluasa melancarkan serangan balik cepat.

Berbeda dengan Liverpool yang bertaruh besar pada satu superstar, Arsenal memilih pendekatan borongan belanja dengan total pengeluaran £267,5 juta. Selain Eze, mereka mendatangkan Viktor Gyökeres, Noni Madueke, Martin Zubimendi, hingga Kepa Arrizabalaga (The Guardian, 23/08).

Mikel Arteta ingin memastikan kedalaman skuadnya cukup untuk bersaing di semua kompetisi. Eze adalah simbol dari pendekatan ini—bukan sekadar pengganti Saka yang cedera, tetapi tambahan kreativitas dan fleksibilitas posisi. Rekam jejaknya di Palace, termasuk gol penentu di final FA Cup 2025 melawan Manchester City (Wikipedia, 05/2025), menjadi alasan Arsenal percaya diri menjadikannya starter di Anfield.

Debut Eze di Anfield: Harapan dan Ancaman

Atmosfer Anfield terkenal menekan lawan, terutama bagi pemain baru. Banyak bintang besar gagal di laga debut di stadion ini. Namun, Eze punya kualitas untuk membalikkan cerita. Dengan dribel halus dan visi permainan yang tajam, ia bisa mengeksploitasi celah di sisi kanan Liverpool, apalagi jika Dominik Szoboszlai kembali dipasang sebagai bek kanan darurat (The Scottish Sun, 08/25).

Kuncinya adalah ketenangan. Jika Eze mampu keluar dari pressing Liverpool, Arsenal bisa mendapatkan ruang transisi yang mematikan. Kolaborasinya dengan Gyökeres dan Noni Madueke berpotensi memberi tekanan besar bagi pertahanan tuan rumah (Reuters, 23/08).

Laga ini bisa jadi salah satu momen penting dalam perebutan gelar Premier League musim 2025/26. Sorotan publik memang akan banyak tertuju pada debut Eze dan performa Wirtz, tetapi sejatinya, sosok paling menentukan mungkin justru adalah Ryan Gravenberch.

Seperti dikatakan dalam FourFourTwo (08/25), bukan bintang baru yang menjadi kunci Liverpool, melainkan pemain underrated yang hilang. Dan tanpa Gravenberch, Anfield mungkin akan menjadi panggung bagi Eze untuk menulis cerita debutnya yang mewah.