31.08.2025
Waktu membaca: 3 min

Drama VAR di Premier League: Dua Laga, Dua Kontroversi, Ribuan Pertanyaan

Lorina Sofi
Lorina Sofi
Drama VAR di Premier League

Ketika Video Assistant Referee (VAR) pertama kali diperkenalkan di Premier League, banyak yang berharap teknologi ini menjadi “penyelamat keadilan” sepak bola. Namun, di balik layar monitor, sering kali lahirlah keputusan-keputusan yang justru membelah opini publik.

Pekan ketiga musim 2025/26 kembali jadi panggung kontroversi. Dua laga besar—Manchester United vs Burnley dan Chelsea vs Fulham—berubah menjadi perbincangan hangat, bukan hanya karena skor, tapi karena VAR yang jadi aktor utama drama.

ld Trafford Bergejolak: MU vs Burnley (3–2)

Drama Menit 97

Pertandingan yang sudah menegangkan sejak awal mencapai klimaks di menit ke-97. Saat skor imbang 2–2, Amad Diallo berlari menembus pertahanan Burnley. Kausnya tertarik, ia terjatuh, stadion terdiam. Wasit awalnya membiarkan, tetapi panggilan VAR mengubah segalanya. Setelah meninjau layar, ia menunjuk titik putih.

Bruno Fernandes maju. Dengan satu tarikan napas, ia menaklukkan kiper Burnley. Old Trafford meledak. United menang dramatis 3–2.

Apa Kata Ahli?

  • Aftonbladet menilai keputusan itu “kontroversial”, karena kontak terlihat minimal.
  • GiveMeSport menyebut tarikan terjadi di luar kotak penalti, yang seharusnya hanya menghasilkan tendangan bebas.
  • Beberapa pundit menilai wasit terlalu “teknis” dalam membaca aturan, tanpa mempertimbangkan konteks pertandingan.

Hasilnya? Manchester United tersenyum lega, Burnley pulang dengan amarah, sementara publik terbelah: penalti sah atau hadiah murah?

Stamford Bridge Memanas: Chelsea vs Fulham (2–0)

Saat Gol Berubah Jadi Bencana

Fulham sempat merayakan gol penyama kedudukan, tapi hanya sebentar. VAR turun tangan, menemukan pelanggaran dalam build-up, dan gol dianulir. Tak lama kemudian, Chelsea justru mendapat penalti lewat keputusan VAR yang kembali menimbulkan tanda tanya.

Reaksi Panas

  • Marco Silva, manajer Fulham, murka: “Ini bukan pertama kali, selalu sama. VAR seakan berpihak.”
  • Joe Cole menyebut keputusan itu “disgraceful”—memalukan bagi sepak bola modern.
  • Jamie Carragher di Sky Sports menyebutnya “shocking”, sementara Rio Ferdinand berkomentar di media sosial: “VAR membuat permainan kehilangan kejujuran alaminya.”

Fulham merasa dicuri haknya, sementara Chelsea dianggap kembali “diuntungkan” oleh teknologi.

Perspektif Para Pakar

Stuart Pearce: “Keputusan di laga Chelsea itu konyol. VAR seharusnya memperjelas, bukan memperburuk.”

Jamie Carragher: “Ini iklan buruk untuk Premier League. Fans butuh kepastian, bukan kebingungan.”

Rio Ferdinand: “Transparansi harus ada. Kita berhak tahu apa yang sebenarnya didiskusikan wasit dengan VAR.”

 

Para ahli sepakat: masalah terbesar bukan teknologinya, melainkan interpretasi manusia yang mengoperasikannya.

Sepak bola adalah drama, dan drama butuh bumbu kontroversi. Tapi ketika kontroversi lahir dari teknologi yang seharusnya menghilangkannya, pertanyaan besar muncul: apakah VAR benar-benar solusi, atau justru masalah baru?

Laga Manchester United vs Burnley dan Chelsea vs Fulham akan dikenang bukan hanya karena skor, tapi karena menjadi bukti nyata bahwa VAR masih butuh perbaikan besar. Premier League kini berdiri di persimpangan: membenahi sistem, atau terus kehilangan kepercayaan publik.

Satu hal pasti: selama VAR dipakai tanpa konsistensi dan transparansi, drama sepak bola akan selalu punya aktor tambahan—bukan pemain di lapangan, tapi layar monitor di ruang kontrol.